Rabu, 10 Oktober 2012

Keledai


Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun ( ditutup karena berbahaya) jadi tidak berguna menolong keledai. Dan ia mengajak para tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari  apa yang sedang terjadi, ia menangis  penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang menjadi takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara para tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati sumur dan melarikan diri.

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari ‘sumur’ (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari ‘sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan salah satu BATU PIJAKAN untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ‘sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah!

Ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan:
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskan pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Tersenyumlah
6. Carilah teman yang mampu membuat tersenyum.

Salam SuksesMulia!

By: @AryAgrahwan

Selasa, 09 Oktober 2012

Saya dan Surah Ar-Rahman

Saya awali aktivitas seusai sholat subuh mendengarkan murottal dari Imam As-Sudais, salah satu imam besar di kota Mekkah. Begitu merindingnya mendengarkan lantunan ayat-ayat suci. Kali ini yang saya dengarkan adalah surah Ar-rohman.

Dalam Surah Ar-rohman ini, 31 kali ayat yang sama diulang, ketika saya baca fabbiayyi alaa I robbikuma tukadziban kemudian saya baca terjemahannya dan saya resapi, MasyaAllah air mata saya dengan mudahnya menetes. Arti dari ayat tersebut adalah “Nikmat mana yang akan kamu dustakan?”

Bingung mau jawab apa, karena begitu besarnya Allah memberikan kasih sayang dan rahmatnya untuk kita. Tak ada yang bisa menghitung nikmat yang sudah Allah kasih, seketika itu saya membayangkan jikalau nafas ini bayar, bagaimana cara bayarnya?

Subhanallah, air mata ini semakin menetes, 78 ayat Ar-rohman membuat merinding saya pagi ini. Yang Maha Pemurah membuat saya sadar, begitu banyak nikmatNya yang sudah diberikan kepada saya, namun terkadang saya lupa kan hal itu. Bahkan sampai Allah menegur kita 31 kali.

Kita sering lupa nikmat yang sudah Allah kasih, menyepelekannya, namun ketika kita sudah jatuh, sakit atau apa saja yang membuat kita down.  Barulah sadar akan nikmatNya yang begitu sangat luas, namun kadang tak kita sadari.

Semoga kita selalu termasuk orang yang selalu mengingat NikmatNya dikala sedih maupun senang, karena begitu sangat luas rahmat dan kasih sayangNya.


Salam SuksesMulia!

By: @AryAgrahwan

Rabu, 03 Oktober 2012

Puisi Entrepreneur


Setiap Rabu lini masa [time line/TL] twitter biasanya ramai dengan tagar #wiRABUsaha yang sarat dengan inspirasi entrepreneurship atau kewirausahaan. Oleh karena itu, hari ini saya akan mencoba meramaikannya dengan membuat puisi bertema entrepreneur.

Ketika orang lain MASIH terlelap, aku sudah berkeringat
Ketika orang lain SUDAH terlelap, aku masih bersemangat

Apakah aku lelah? Tidak, karena kulakukan dengan penuh HASRAT
Ketika orang bahagia menerima gaji, aku bahagia karena bisa MEMBAYAR GAJI
Ketika orang lain sibuk menyalahkan orang lain karena bisnis tak sesuai rencana, aku SIBUK BELAJAR agar bisnisku terus bersinar

Ketika orang lain melihat MASALAH, aku melihatnya di situ ada PELUANG
Ketika orang lain melihat SAMPAH, aku melihatnya itu bisa menjadi UANG

Ketika orang lain sibuk menjaga GENGSI, aku sibuk menyiapkan produk atau jasa yang meningkatkan gengsi. Namun, ketika orang lain sibuk ditagih KARTU KREDIT aku justeru ditawari banyak kredit dari berbagai lembaga keuangan

Ketika istri orang lain sibuk mengatur KEUANGAN , istriku justeru membanyak belanja untuk menambah barang DAGANGAN.  Ketika orang lain sibuk mencari LEMBUR-an, aku sibuk mencari tempat untuk LIBUR-an

Ketika orang lain takut saat usia PENSIUN, saat itu justru aku sedang amat BAHAGIA karena bisnisku telah menggurita.  Saat usia sudah senja orang lain masih sibuk dengan urusan DUNIA, aku sudah amat sibuk menggapai cinta dari SANG MAHA.

Kelak, aku ingin bersanding dengan para saudagar sahabat NABI, di kehidupan yang ABADI. Akupun ingin mengajak Anda yang membaca tulisan ini, bermain-main di taman SURGAWI. Mau?


Salam SuksesMulia!

By: @AryAgrahwan

Sumber: www.JamilAzzaini.com

Senin, 01 Oktober 2012

Puisi untuk Ibu


Ibu…

Aku lebih suka memanggilmu ibu. Bukan mama, mami, bunda, umi atau sebutan lain yang bermakna sama.
Kata ibu lebih mulia dan mempunyai makna yang lebih dibandingkan yang lainnya. Bagiku, ibu adalah sosok yang sederhana dan penuh perjuangan.

Ibu adalah panutan sekaligus sahabat terdekat, yang dengannnya aku tidak ragu untuk bercerita dan berbagi rahasia kecil. Ibu adalah kebanggaanku, cintaku, cahaya dan kebahagiaanku. 

Kasih sayangnya bagai pendar-pendar cahaya yang tak pernah redup yang senantiasa menyinari hatiku dan saudaraku yang lain.

Cahaya yang membuat kami hangat dan tak pernah merasa sendirian, karena ada ibu yang menemani setiap langkah dalam menapaki jejak hidup ini.

Ibu…

Kata yang ingin senantiasa kuucapkan adalah kata maaf dan terimakasih atas segalanya.
Maaf, karena begitu banyak kesalahan yang kulakukan selama ini. Begitu banyak hal yang sudah kulakukan dan membuatmu kecewa.

Namun, tak ada nada marah dan menghakimi seperti yang kuduga.
“ Tak apa, besok pasti bisa lebih baik lagi” ucapmu dengan sepenuh hati.

Terimakasih Bu, atas semua kasih sayang, doa yang senantiasa kau panjatkan dalam setiap sholat dan sujudmu.

Terimakasih atas kesabaran dan persahabatan yang tulus yang ada.
Bagiku, ibu lebih dari sekedar ibu.

Ibu adalah sahabat terdekat, dimana aku bisa menceritakan segala yang terjadi
di hidupku tanpa aku merasa dihakimi, namun dihargai sebagai seorang sahabat dan anak

Ibu…

Terimakasih untuk semua yang telah ibu berikan pada anak-anakmu.
Maafkan kami yang belum mampu membahagiakan ibu dengan semestinya.
Tapi percayalah Bu, kami akan berusaha semampu kami agar suatu saat ibu dapat bangga karena mempunyai anak-anak seperti kami.

Hanya ridho dan doa ibu yang senantiasa kami harapkan dan semoga Allah juga meridhoi setiap yang kami lakukan hingga bisa membahagiakan ibu.

Terimakasih dan syukur yang tak terhingga pada Allah yang telah memberikan seorang ibu yang begitu baik, sabar dan tegar hingga kami tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang walau dibesarkan tanpa kehadiran Bapak disisi kami.

Hanya doa yang yang kami panjatkan pada Ibu, semoga Allah mencatat semua amal kebaikan ibu selama ini sebagai pahala bagi ibu. Amien
                                    
IBU adalah Sumber Inspirasiku untuk menciptakan sebuah karya 



Sumber: Anton Ardiarto

Salam SuksesMulia!

By: @AryAgrahwan

Jumat, 21 September 2012

Kritikan itu perlu



Ada pepatah mengatakan, kita diberi 2 telinga dan 1 mulut agar lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara. Alangkah indahnya ketika senang mendengarkan orang yang cerita, karena dia percaya hanya kepada Anda, dia bercerita.

Ini baru saja saya alami, ketika sehabis sholat subuh berjamaah, ada seseorang mengirimi saya sms yang membuat saya menyesali tindakan saya, bunyi smsnya “Seorang manusia  (dalam konteks lawan interaksi) adalah sebagian kecil dari dunia. Seorang itu adalah simulasi dari dunia yang besar adanya. Tolong Anda jangan apatis, suatu hari nanti Anda pasti mengalami tindakan apatis ini, cobalah belajar respect terhadap orang menyempatkan berbagi cerita terhadap Anda, karena dia percaya Anda. Cobalah lebih banyak mendengarkan”.

Rasanya tak bisa dibayangkan, begitu masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam hidup saya, contoh kecilnya agar lebih banyak mendengarkan orang yang bercerita. Kritikan ini membuat saya terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Masih banyak hal yang dianggap sepele ternyata berdampak besar bagi lawan interaksi kita. Malu rasanya saya lebih banyak berbicara dibanding mendengarkan.  Ini sebagai cambukkan untuk saya, terimakasih untuk seseorang disana yang telah mengirimkan sms ini. Sangat bermanfaat sekali untuk saya pribadi.

Kritikan itu vitamin, untuk Anda yang sering dikritik bersyukurlah bahwa Anda masih diperhatikan dilingkungan dan masih ada perhatian untuk Anda. Kadang juga kritikan perlu ditambahkan saran tidak hanya sekedar kritik.

Semoga Anda bisa mengambil hikmah dibalik kejadian ini, apakah selama ini kita sudah mendengarkan dengan baik?

Salam SuksesMulia!

By: @AryAgrahwan