Selasa, 11 September 2012

Anak yang Kurang Perhatian


Seorang pria pulang kantor terlambat, dalam keadaan lelah dan penat, saat menemukan anak lelakinya yang berumur 5 tahun menyambutnya di depan pintu.

 “Ayah, boleh aku tanyakan satu hal?” “Tentu, ada apa?” “Ayah, berapa rupiah ayah peroleh tiap jamnya?” “Itu bukan urusanmu. Mengapa kau tanyakan soal itu?” kata si lelaki dengan marah. “Saya cuma mau tahu. Tolong beritahu saya, berapa rupiah ayah peroleh dalam satu jam?” si kecil memohon. “Baiklah, kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Ayah mendapatkan Rp 20 ribu tiap jamnya.” “Oh,” sahut si kecil, dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian ia mendongakkan kepala, dan berkata pada ayahnya, “Yah, boleh aku pinjam uang Rp 10 ribu?”


Si ayah tambah marah, “Kalau kamu tanya-tanya soal itu hanya supaya dapat meminjam uang dari ayah agar dapat jajan sembarangan atau membeli mainan, pergi sana ke kamarmu, dan tidur. Sungguh keterlaluan. Ayah bekerja begitu keras berjam-jam setiap hari, ayah tak punya waktu untuk perengek begitu.”
Si kecil pergi ke kamarnya dengan sedih dan menutup pintu. Si ayah duduk dan merasa makin jengkel pada pertanyaan anak lelakinya.

Betapa kurang ajarnya ia menanyakan hal itu hanya untuk mendapatkan uang? Sekitar sejam kemudian, ketika lelaki itu mulai tenang, ia berpikir barangkali ia terlalu keras pada si anak. Barangkali ada keperluan yang penting hingga anaknya memerlukan uang Rp 10 ribu darinya, toh ia tak sering-sering meminta uang. Lelaki itu pun beranjak ke pintu kamar si kecil dan membukanya.

“Kau tertidur, Nak?” ia bertanya. “Tidak, Yah, aku terjaga,” jawab si anak. “Setelah ayah pikir-pikir, barangkali tadi ayah terlalu keras padamu,” kata si ayah. “Hari ini ayah begitu repot dan sibuk, dan ayah melampiaskannya padamu. Ini uang Rp 10 ribu yang kau perlukan.”

Si bocah laki-laki itu duduk dengan sumringah, tersenyum, dan berseru, “Oh, ayah, terima kasih.” 
Lalu, sambil menguak bantal tempatnya biasa tidur, si kecil mengambil beberapa lembar uang yang tampak kumal dan lecek.

Melihat anaknya ternyata telah memiliki uang, si ayah kembali naik pitam. Si kecil tampak menghitung-hitung uangnya.

“Kalau kamu sudah punya uang sendiri, kenapa minta lagi?” gerutu ayahnya. “Karena uangku belum cukup, tapi sekarang sudah.” jawab si kecil. “Ayah, sekarang aku punya Rp 20 ribu. Boleh aku membeli waktu ayah barang satu jam? Pulanglah satu jam lebih awal besok, aku ingin makan malam bersamamu.

Senin, 10 September 2012

Mulailah dari yang kecil


Setiap apa yang kita lakukan akan berbalik kepada kita sendiri, ibarat yang kita tebar itu baik maka akan menjadi nyaman ketika melangkah berbeda dengan yang tercela begitu sakit ketika melangkah. Hal inilah yang sering kita alami, bahkan kita tahu ilmunya tapi selalu saja kita mengabaikannya. Seolah tak menyadari bila itu adalah hasil yang kita perbuat.

Tulisan ini saya share karena saya mengalami semua kejadian yang baik maupun yang buruk. Ketika saya berbuat baik maka pertolongan baik pun selalu menyertai kita, namu sebaliknya begitu kita maksiat maka double sengsaranya.  Dosa yang bertambah dan juga balasannya.

Berhentilah bermaksiat! Disini saya juga bukan bermaksud untuk menggurui tapi saling belajar karena saya pun masih berbuat maksiat. Berbenah mulai dari yang kecil, ingatlah! Karena yang besar itu bermula dari yg kecil. Lakukanlah kebaikan ketika kesempatan berbuat baik itu masih diberikan DIA untuk kita, jangan sampai kita terlambat untuk berbuat baik secara maksimal.

Sungguh sangat menyesal ketika dia menjelang ajalnya baru akan berbuat baik secara maksimal, namun ketika dia masih hidup menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Seperti apa yg pernah DIA firmankan: “Tolonglah oranglain maka AKU yang akan menolongmu”. Luar biasa bukan? Ketika tidak lagi manusia yang menolong kita tapi DIA.

Mulailah dengan perbuatan baik sederhana dirumah, seperti membantu orangtua, mengajari adik, atau yang lainnya. Entah kita tidak tahu sampai kapan ajal memanggil? Berbuatlah kebaikan dengan maksimal. Yuk! Sama-sama kita belajar berbuat kebaikan secara maksimal.

Salam SuksesMulia

By: @AryAgrahwan

Jumat, 07 September 2012

Renungan


Satu hal sebagai bahan renungan indahnya malam pertama, tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi, bukan pula malam pertama sebagai pengantin baru. Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut.
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu sang mempelai sangat dimanjakan,
Mandipun harus dimandikan..
seluruh badan terbuka, tanpa sehelai benang pun menutupinya.
Tak ada rasa malu seluruh badan digosok, dibersihkan kotoran dari lubang hidung sampai (maaf) anus
Bahkan lubang-lubang itu ditutupi kapas putih
Itulah sosok kita..  Itulah jasad kita

Setelah dimandikan kita akan dipakaikan gaun berwarna putih . Kain itu jarang orang memakainya, bermerk sangat terkenal bernama “kafan”. Wewangian ditaburkan dibaju kita, bagian kepala, badan dan kaki diikat. Keranda pelaminan disiapkan. Pengantin bersanding sendirian.

Mempelai diarak keliling kampung, diiringi tetangga menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul dari tanah kembali ke tanah. Kita diiringi langkah seluruh keluarga, serta rasa haru para kerabat. Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimat dzikir. Akad nikahnya bacaan talkin, berwalikan liang lahat. Saksi-saksinya, nisan yang datang terlebih dahulu. Siraman air mawar penghantar akhir kerinduan.

Dan akhirnya..

Tibalah masa pengantin menunggu dan ditinggal sendirian untuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupan. Malam pertama bersama kekasih ditemani rayap dan cacing tanah. Dikamar bertilamkan tanah, ketika 7 langkah telah pergi kita akan ditanya oleh malaikat.

Kita tidak tahu akankah memperoleh nikmat kubur atau siksa kubur, kita tak tahu dan tak seorang pun yang tahu. Tapi anehnya kita tidak pernah galau ketakutan dengan hal itu.
Sudah siapkah kita dengan malam pertama?

Salam SuksesMulia

By: @AryAgrahwan



Kamis, 06 September 2012

Filosofi Laba-Laba

Sekedar merefresh pikiran saya, sewaktu SMA saya dipinjamkan buku motivasi karya Andrie Wongso. Saya tak pernah kenal sosok yang satu ini, saya hanya berfokus menamatkan buku itu karena hanya diberi jatah 2 hari untuk menghabiskannya.
Dari seluruh judul yang saya baca, hanya filosofi laba-laba yang paling berkesan diantara yang lain. Luar biasa cerita yang simple tapi menyimpan arti yang penuh makna. Semoga cerita ini dapat bermanfaat untuk Anda.


Saya akan ceritakan dengan bahasa saya sendiri.

Suatu hari di taman ada seorang pemuda yang sangat gundah gulana, dia seperti gagal dalam suatu hal hingga dia sangat menyesalinya, terlihat dari wajahnya yang tak pernah senyum hanya kemarahan saja yang tampak dari wajahnya. Kemudian dia lihat laba-laba yang sedang membuat jaring, dia amati terus, tapi karena ia masih sangat kesal terhadap apa yang dialaminya maka jaring yang telah dibuat oleh laba-laba tersebut dihancurkan oleh pemuda itu untuk melampiaskan emosinya. Lalu dia amati kembali laba-laba tersebut, ternyata laba-laba tersebut membuat kembali jaringnya hingga selesai tapi kembali dihancurkan oleh pemuda dengan liar, dicabik-cabik dengan ranting yang dia ambil. Pemuda ini menunggu apa yang akan dilakukan oleh laba-laba tersebut, karena sudah 2 kali dihancurkan jaring yang telah selesai dibuat. Tapi kemudian laba-laba itu tak kenal lelah, dengan sabarnya jaring itu satu per satu disusun hingga selesai. Pemuda ini terhenyak melihat tak pernah menyerahnya seekor laba-laba.
Dari sini pemuda tersebut menemukan jawaban, bahwa kegagalan itu bukan akhir dari segalanya, kegagalan itu adalah sukses kita yang tertunda. Dia belajar banyak dari seeekor laba-laba yang tak pernah nyerah walaupun 2 kali dihancurkan jaring yang telah dibuatnya dengan susah payah.
Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk belajar, belajar dan belajar dari arti kegagalan.

Salam SuksesMulia!
By: @AryAgrahwan

Rabu, 05 September 2012

Bimo Prakoso


Saya mengenal dia ketika saya masuk SMA, awalnya saya hanya sebatas biasa saja untuk mengenal dia, tapi belakangan menjadi teman akrab karena mempunyai hobbi yang sama. Namanya Bimo Prakoso, laki-laki ini 3 tahun selalu bersama saya dibangku SMA. Sampai akhirnya bangku kuliah memisahkan kita.

Setelah kuliah kami jarang berkomunikasi, hanya sebatas bertemu saja ketika ada undangan pertemuan di rumah teman. Yang saya kagumi dari dia adalah, dia kuliah sambil kerja, ini yang membuat dia unggul dari saya. Luar biasa! Saya Sangat salut dengan dia. Dia sempat berucap kepada saya ketika ada pertemuan, “Gue kerja untuk keluarga, gue mau cari uang sendiri walaupun hanya uang untuk jajan gue sehari-hari”. Kata-kata ini sangat membuat hati saya gemetar. Sangat jauh dibanding saya.
Sampai akhirnya dia mengalami perubahan drastis, pola mindsetnya terbuka, dan dia tegaskan kalau dia ingin jadi pengusaha, dia sempat berkata “Gue mau sukses diusia muda, gue lebih dulu punya pengalaman kerja dibanding teman gue, jadi ketika nanti gue lulus, yang lain lagi sibuk cari kerja, gue udah punya kendaraan sendiri” saya mengaminkan doa dia
Saya bisa merasakan kekuatan ketika dia berucap seperti itu, saya pun mendapat kabar kalau dia sudah mulai merutinkan Sholat Dhuha, Sholat Tahajud, maupun Sedekahnya. Jeger!! Habislah saya, kalah telak saya dibanding dia, dia adalah guru kehidupan saya. Salut! Dia selalu ‘mengosongkan gelasnya’ untuk bertemu seseorang. Dia lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara.
Mentalnya kuatnya sudah ada semenjak dia SMA, saya sangat mengenal dia. Sosok inspirasi untuk saya, salah satu guru kehidupan juga, saya masih belajar untuk melatih mental baja saya. “ngapain gengsi kalo jualan, kalo udah kaya maka hidup kita yang bergengsi” itu adalah kalimat yang membuat saya kembali berbenah dari sekarang. Ucapan terimakasih kepada guru kehidupan saya Bimo Prakoso

Salam SuksesMulia
By: @AryAgrahwan